Apa yang kita alami hari ini adalah efek dari pikiran kita kemarin dan apa yang kita pikirkan hari ini akan menimbulkan efek pada hari esok sedangkan apa yang kita pikirkan saat ini adalah proses untuk mencoba menciptakan kehidupan dimasa yang akan datang

© BY : <-ANCHUZ->

BENARKAH KITA SUDAH MERDEKA?


Menjelang perayaan kemerdekaan negeri ini, semua warga dibuat sibuk. Ada yang menyiapkan pohon pinang. Jelas bukan untuk dipinang, tapi untuk lomba panjat pinang. Selain lomba paling favorit dan jadi trademark perayaan kemerdekaan ini, masih banyak lomba lain yang tujuannya memang untuk menghibur; seperti lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba memasukan paku ke dalam botol dengan cara buntutnya duluan, ada juga lomba mengambil uang logam yang ditempelkan di jeruk Bali yang telah dilumuri oli dengan cara digigit, dan beragam lomba yang sifatnya menghibur lainnya.

Pada acara tersebut, yang menjadi peserta maupun penonton sama-sama merasa terhibur. Mereka bersorak, teriak, dan tentu saja melupakan beban hidup yang akhir-akhir ini terasa begitu menghimpit bahkan mencekik leher kita semua. Meriah, sudah pasti, karena memang tujuannya juga untuk suka-suka di ajang "independence day" ini.
Maka, tidak heran kalo sejak awal bulan Agustus sebagian lomba sudah digelar. Ujungnya, acara ini akan ditutup dengan hiburan panggung gembira yang menampilkan artis-artis dadakan di RW setempat. Ya, pokoknya memberikan rasa senang buat warga di bulan "keramat" bagi bangsa ini.
Alasannya, daripada warga manyun menghitung hari dan mimpi, lebih baik diberikan kebahagiaan walaupun hanya sebulan ini.
Berbicara soal kemerdekaan, kita harus ingat bagaimana perjuangan para pendahulu kita. Utamanya yang berjuang untuk melepaskan negeri ini dari cengkeraman penjajahan negara-negara seperti Inggris, Portugis, Belanda, dan Jepang. Bagaimana mereka mengorbankan darah dan air matanya untuk sebuah kemerdekaan. Rela meregang nyawa demi kehormatan dan harga diri. Begittulah yang diungkapkan kakek dan nenek kita dahulu yang hidup di masa prakemerdekaan bahwa dijajah itu tidak enak. Tidak bisa bebas, tidak bisa berbuat sesuka kita. Hidup kita terus dikendalikan para penjajah. Wajar kalau berontak juga kan? Seperti kata pepatah “semut juga kalo diinjak pasti mati, eh, melawan”. Semua peristiwa itu terekam dalam buku sejarah, meski acapkali penulisan sejarah juga suka ditunggangi oleh pihak tertentu untuk menyimpangkan dari kenyataan yang sebenarnya.
Kita bisa tahu bagaimana semangat perjuangan pahlawan-pahlawan kita yang gagah berani.. Apalagi, sebagian besar dari para pahlawan negeri ini adalah kaum muslimin. Sebab, mereka tahu bahwa para penjajah itu datang ke negeri ini adalah dengan tujuan yang salah satunya untuk menyebarkan agama.
Perlu kita ketahui, bahwa Bangsa Barat pada umumnya dalam menjajah punya misi 3G, bukan 3G yang ada pada handphon tatapi mencari harta kekayaan (gold), kemenangan (glory), dan menyebarkan agama (gospel), plus tentunya dengan mengobarkan Perang Salib. Wah, benar-benar harus dilawan!
Pergolakan melawan penjajah ini muncul di berbagai wilayah dan berlangsung sangat lama. Di Maluku saja, Perang Salib sudah dikobarkan oleh Portugis saat mendarat pertama kali di Maluku pada tahun 1512. Padahal saat itu, rakyat Maluku sudah banyak yang memeluk Islam. Maka perang pun tak terhindarkan. Belum lagi perlawanan pahlawan Islam seperti Tjut Nyak Dien di Aceh, kemudian Sisingamangaraja XII di Tapanuli, Pattimura di Ambon, Imam Bonjol di Padang, Pangeran Diponegoro di Jateng, dan masih banyak yang lainnya yang menganggap bahwa para penjajah tak lebih dari serigala yang bakal menguras harta kekayaan negeri ini dan menyebarkan agama mereka. Untuk menghadapi mereka hanya ada satu kata, yaitu Jihad!
Perang terus berlangsung sampai menjelang tahun 1945. Perlawanan bersenjata dan perjuangan lewat jalur politik dilakukan demi sebuah kemerdekaan yang telah didambakan berabad-abad lamanya.
Akhirnya, negeri ini memang merdeka dan diakui oleh PBB. Meski kemudian pada hakikatnya sekarang kita malah terjebak dalam sebuah "penjajahan" baru. Ibaratnya keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya yang sama-sama berbahaya. Sebab, dengan "merdeka" dan berdiri di atas dasar nasionalisme merupakan bencana baru, dan tentu itu adalah jenis penjajahan baru.
Tapi terlepas dari itu, tenaga, air mata, darah, doa, dan juga nyawa para pejuang kemerdekaan negeri ini telah menjadi saksi bisu perjalanan negeri ini. Insya Allah mereka ikhlas berjuang untuk melawan dan memusnahkan kekufuran dari negeri ini.
Memang kalau berbicara soal kemerdekaan, sepertinya kita sering lupa dengan pesan dan semangat para pejuang negeri ini. Jangankan meneladani semangatnya, ternyata kita justru terjebak dalam aktivitas yang sangat jauh dari nilai perjuangan mereka.
Coba kita bayangkan saja, dahulu para pahlawan kita mati-matian bertempur melawan "nenek moyangnya" Patrick Kluivert (Wong Londo). Sekarang dengan dalih meniru dan meneladani semangat mereka, kita adakan juga lomba balap karung. Pesan dari lomba panjat pinang mungkin ingin memberikan gambaran bahwa dulu para pejuang susah payah untuk mendapatkan kemerdekaan, jadi diperlukan upaya kerjasama yang kuat.
Kalau begitu, perayaan kemerdekaan tidak ada bedanya dengan acara "buang sial", menghabiskan uang, hura-hura, suka-suka, dan melupakan masalah kita yang sebenarnya harus dibereskan. Akhirnya, wajar kan kalo kita kemudian bertanya, apakah ini yang dinamakan dengan kemerdekaan? Apakah ini hasil yang telah dicapai dari bangsa yang katanya sudah merdeka?.
Merdeka, artinya tidak dijajah. Kita semua pasti tahu. Merdeka artinya kita tidak dikendalikan pihak lain. Kita bisa bebas melakukan apa saja yang kita suka selama itu memang sesuai dengan prinsip hidup kita. Orang lain tidak boleh ada yang mendikte kita, apalagi mencampuri urusan "dalam negeri" kita. Itu namanya merdeka.
Tommy Soeharto juga kabur sebelum sempat masuk penjara. Sebab ia tahu, yang namanya penjara adalah "rumah" paling mengerikan sedunia. Penjara memang mengerikan. Itu sebabnya semua orang tidak mau tinggal di sana. Nah, bagi orang seperti itu, kemerdekaan adalah barang langka dan mahal harganya.
Jadi, kembali ke persoalan semula. Merdeka adalah terbebasnya kita dari segala aturan orang lain, seraya kita mengikatkan dan menundukkan diri kita sepenuhnya kepada Allah Swt. Sebab, itulah sebaik-baik penghambaan kita. Kalau sekarang kita masih terjajah oleh hawa nafsu, masih dikendalikan dan didikte oleh orang lain, maka kita jelas masih terjajah alias belum merdeka.
Padahal dalam shalat, kita sudah berikrar kepada Allah, bahwa kita akan menyerahkan segalanya kepada Allah Swt. Firman-Nya: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,"
Kalau kita bicara soal masyarakat, berarti masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman aturan masyarakat lain, begitu pula dengan negara.
Negara yang merdeka adalah negara yang mandiri, dan tidak dikendalikan oleh aturan negara lain. Kalau sekarang? Kita masih terjajah, kawan. Masyarakat kita masih belum bisa melepaskan ikatan yang dijeratkan ideologi kapitalisme. Tragisnya lagi, kita justru menjadi pejuang pesan-pesan ideologi kufur ini. Makna kebahagiaannya adalah banyaknya materi yang berhasil dikoleksi, bukan lagi ridho Allah.
Itu sebabnya, kemudian masyarakat kita dituntut untuk melakukan hal yang haram sekalipun untuk meraih kebahagiaan materi. Bila perlu mencari harta dengan cara gila-gilaan. Masyarakat kita pun malah fasih melafalkan dan melaksanakan ide demokrasi daripada Islam. Ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih menjadi bagian dari masyarakat Barat. Itu artinya belum merdeka.
Penjajahan saat dapat dikatakan penjajahan gaya baru. Secara fisik memang tidak terlihat serdadu musuh berseliweran di negeri ini, tapi secara hukum, ekonomi, sosial, dan politik, kita benar-benar dikendalikan negara lain, seperti AS dan Eropa. Berarti kita belum merdeka. Kehidupan kita benar-benar disetir dan dipoles dengan kehidupan dari Barat.
Secara global, remaja kita memang terjajah gaya hidup bangsa barat, walaupun mereka mengaku bahwa mereka merdeka, namun hakikatnya mereka terjajah. Terjajah dengan gaya hidup Barat.
Putus hubungan dengan penjajah merupakan langkah yang bijak. Sebab, kalau kita mau mandiri, maka kita harus melepaskan segala ikatan yang dibuat oleh pihak lain. Lucunya sekarang, ikatan itu tidak saja sengaja diciptakan oleh penjajah, tetapi adakalanya oleh kita sendiri. Itu bisa terjadi, saat kita merasa bahwa kita tidak terjajah. Buktinya, kita tidak sadar kalau menjadi corong penyebaran paham mereka.
Maka sungguh heran bin aneh apabila ada remaja yang tidak paham tentang arti merdeka. Jangankan kemerdekaan, mereka justru ingin menghapuskan sejarah dari materi pembelajaran. Seolah-olah sejarah sudah tidak diperlukan lagi dalam kehidupan mereka, padahal mereka tahu bahwa para pahlawan pejuang bangsa berjuang mati-matian memerdekakan Negara Indonesia ini. Sungguh kasihan bila masih ada remaja yang menginginkan pelajaran sejarah ditiadakan dan tidak sadar kalau dirinya sedang dijajah Westlife, Scorpions, Dawson's Creek, atau dijajah oleh Giani Versace, Giorgio Armani, dan Lanvin dalam hal busana.
Mungkin kita harus jujur, namun sepertinya jawabannya, "Belum". Walau penjajah baik Inggris, Spanyol, Portugis, Belanda, maupun Jepang telah lama meninggalkan negeri ini, tapi sepertinya sekarang, diri dan juga bangsa kita masih terjajah, bukan oleh bangsa lain tapi oleh diri kita sendiri. Betapa kita lihat kemiskinan dan kebodohan masih meraja lela, budaya korupsi, kolusi dan nepotisme juga masih hidup subur, ekonomi kita juga masih bergantung kepada bangsa lain dengan utang Negara yang luar biasa besarnya, bahkan kita pun harus jujur masih dijajah oleh hawa nafsu yang menyesatkan dan hampir mematikan semangat kita untuk bertumbuh dan bangkit menjadi bangsa yang berjaya dan berakhlak mulia.
Mungkin ada baiknya kita merenungi syair lagu kebangsaan kita "Indonesia Raya" yang digubah oleh W. R. Supratman, yang mana di dalamnya sarat dengan semangat yang membara, semangat persatuan dan kesatuan, semangat nasionalisme, dan semangat untuk bangkit menjadi bangsa yang luhur dan berjaya. "Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku semuanya... Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya...!"
Sudah menjadi kewajiban kita untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah kita raih dengan susah payah dan membutuhkan pengorbanan yang tak terhitung banyaknya dengan taruhan jiwa dan raga kita. Dan juga sudah menjadi tugas kita, sebagai generasi penerus perjuangan bangsa, untuk mengisi kemerdekaan ini dengan pembangunan di segala bidang menuju terwujudnya masyarakat adil dan makmur, merdeka lahir-bathin, berjaya dan berakhlak mulia.
Sebagai penutup, dengan momentum Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-64 ini, marilah kita bersatu dan bahu membahu membangun Indonesia sesuai dengan posisi dan kemampuan kita masing-masing agar bangsa ini bisa bangkit menjadi bangsa yang merdeka lahir-bathinnya, sejahtera ekonominya, dan tumbuh menjadi bangsa yang dahsyat, yang disegani bangsa-bangsa di dunia. Merdeka...!!!

Sekali merdeka tetap merdeka!

Salam merdeka!


0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © vehement VEHEMENT by Aan Choesni Herlingga 2009

Back to TOP