Apa yang kita alami hari ini adalah efek dari pikiran kita kemarin dan apa yang kita pikirkan hari ini akan menimbulkan efek pada hari esok sedangkan apa yang kita pikirkan saat ini adalah proses untuk mencoba menciptakan kehidupan dimasa yang akan datang

© BY : <-ANCHUZ->

ABG Cuma Bisa Hura-hura?


Hua…ha…ha…ha!” tawa lepas itu sering terdengar di malam minggu, malam senin,
sampe malam selasa. Terutama pada jam-jam sibuk orang mencetin tombol remote
tv nyari channel hiburan malam. Ya, sekitar jam 7 maleman ke atas gitu deh.
Terkadang diselingi tawa nggak lepas, senyum dikulum, hingga cekikikan khas
kuntilanak. Iih…syereem! Asalnya dari para penikmat hiburan komedi televisi.
Mereka adalah komunitas baru yang behasil diciptakan oleh trans TV,
extravaganzaholic. Sapa tuh?

Extravaganzaholic adalah sejenis makhluk hidup yang doyan ketawa akibat
ketagihan hiburan khas Extravaganza. Sejak kehadirannya, variety show yang
menghadirkan komedi rasa baru ini kian populer di kalangan pemirsa tipi.
Semua terhibur dengan tingkah polah dan percakapan para penghuni dunia
extravaganza ini yang pada ngocol. Ada ‘Tato Rame’ Sudiro, Ronald ‘Si Raja
Teh’, Indra Birowo, Tieke, Virnie, Sogi, Mike, dan nggak boleh ketinggalan
kuncen planet ini, Aming/Amingwati yang sering kedapetan ‘bias gender’ saat
berakting. Hihihi…

Kini, kesuksesan ekstravaganza coba ditularkan produsennya pada generasi
penerusnya yang masih belia. Yup, planet Extravaganza mulai dihuni oleh
bintang-bintang muda yang tergabung dalam gank ekstravaganzabg. Mereka
adalah Nia Ramadani, Laudya Cintya Bella, Cecep Reza, Tities Saputra, Bobby
Muscar, Rafi Ahmad, Frans Indonesianus, Asha Shara dan Dhawiya Zaida.

Wajah-wajah baru di dunia hiburan ini mencoba ngikutin jejak kakek-nenek
moyangnya (Aming dkk). Dengan menghadirkan bintang tamu dan band-band idola
remaja, extravaganzabg pengen dapet tempat di hati remaja en remaji.
Sukseskah mereka? Tonton aja ndiri! (lho, kok malah nyaranin nih? Hehehe..)

Kreativitas juga punya batas
Banyak yang heran dengan kesuksesan hiburan khas Extravaganza. Lantaran
pemainnya bukan para pelawak murni atau mantan personel group lawak. Tapi
para aktor dan entertainer asli yang nggak ada bakat keturunan ngelawak
apalagi dikutuk jadi makhluk pengocok perut. Menurut M. Ikhsan, Pimpinan
Kreatif Extravaganza, “Kami mencoba memahami kultur industri televisi.
Mela¬kukan lompatan, mewujudkan berbagai inovasi, belajar memahami psikologi
penonton dan menang¬kap momen,” (Pikiran Rakyat, 24/07/06)

Bener sobat, kamu yang termasuk extravaganzaholic boleh acungi keempat
jempol kamu (sambil duduk biar nggak jatoh) dengan kreativitas hiburan yang
disajikan T-‘enggak’ (dalam bahasa jawa, ora=enggak hehehe... maaf ye Mas
Tora) Sudiro cs. Sketsa komedi yang menyajikan delapan sitkom dalam setiap
episodenya ini emang mujarab untuk ngobatin kejenuhan kita menghadapi
permasalahan hidup. Lawakannya merakyat abis. Tema-tema keseharian dikemas
dalam bodoran segar yang mengandalkan percakapan yang ngocol. Bukan cuma
improvisasi pemain atau lawakan fisik yang kurang santun (meski dikit-dikit
ada sih). Udah nggak zamannya, Bro!

Sayangnya, seperti kebanyakan tayangan entertaint, Extravaganza juga nggak
bisa lepas dari unsur bebas nilai. Celotehan dan adegan yang sering
diperagakan para pemainnya nggak sedikit yang nyerempet-nyerempet porno dan
cenderung vulgar. Kondisi ini diperparah dengan kostum seksi yang terbuka,
mini, dan full pressed body yang sering dipake para pemain wanitanya.
Hasilnya, nggak cuma memancing tawa penonton tapi juga imajinasi mereka.
Pik-tor tuh!

Sementara dalam extravaganzabg, meski skenario dan adegan yang vulgarnya
diperketat, kehidupan remaja yang kental dengan tawa, canda, dan hura-hura
tetep mendominasi dalam setiap episodenya. Kondisi ini kian melengkapi
hiburan-hiburan lain yang banyak menggiring remaja untuk menikmati hidup
dengan fun. Meski tertawa bikin kita bahagia dan baik untuk kesehatan, tapi
kalo hidup cuma diisi dengan ketawa bisa jontor dan tebel tuh bibir!
Hehehe.....

Nah sobat, kreativitas pekerja seni dalam menghibur kita emang itu yang kita
tunggu. Tapi nggak harus pake ngelanggar etika dan sopan santun dong.
Apalagi sampe bebas nilai. Tetep, pemirsa juga berhak dapetin hiburan dan
informasi yang mendidik. Sehingga media bisa menjadi sahabat kita. Betul?

Remaja wajib melek media
Dirut Trans TV, Ishadi SK, mengingatkan kita untuk selalu menempatkan
televisi (broadcast) dalam dua posisi, yaitu sebagai “industri budaya” dan
sebagai “institusi bisnis”. Dalam melangkah di dua posisi itu, akan selalu
terjadi pertarungan antara dua kepentingan, yaitu antara idealisme dengan
realita bisnis. (Pikiran Rakyat, 21/09/05)

Kita boleh aja berharap informasi dan hiburan yang kita lahap tiap hari di
depan televisi bikin kita-kita pada pinter dan bermoral. Tapi kayaknya,
harapan itu ibarat pungguk merindukan bulan kalo kita ngeliat acara-acara
tivi sekarang. Seperti yang dituturkan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia
Daerah (KPID) Jawa Barat, Dian Wardiana Sjuchro, di televisi banyak
kekerasan, seks, jurnalisme menyimpang, takhayul, dan mistik. Malah menurut
psikolog Afra Hafny Noer, materi seksual lebih banyak diekspos daripada
(unsur) pendidikannya (Pikiran Rakyat, 21/09/05)

Parahnya, ‘ideologi rating’ yang dijadikan acuan pengelola tv sering
menendang idealisme mereka untuk mencerdaskan pemirsa. Mereka jadi sibuk
nyari dan bikin acara yang ber-rating tinggi dan menyerap iklan banyak meski
mengorbankan tanggung jawab moralnya kepada masyarakat. Weleh-weleh, kalo
kita nggak kritis bisa jadi musuh dalam selimut kehadiran kotak ajaib alias
televisi di rumah kita. Iya kan?

Tengok aja, tayangan yang umumnya disajikan bagi remaja isinya cuma ngupas
persoalan percintaan yang cenderung mengarah pada seks bebas, keputusasaan
karena ditinggal pacar, transaksi cinta demi meraih materi, melawan orangtua
yang katanya “demi cinta”, hingga aborsi sebagai jalan keluar akibat
kehamilan yang tidak dikehendaki. Kemudian, persoalan pergaulan tidak luput
dari narkoba, dugem, bergaya hidup mewah, serta persoalan fashion yang
identik dengan tren pakaian-pakaian mini, ketat, aksesori-aksesori nan
mahal, ponsel canggih, hingga make up berlebihan. Yang penting trendy.
Yup, semuanya disajikan dengan vulgar nggak pake sensor. Akibatnya informasi
model gini bisa jadi inspirasi bagi penonton remaja yang masih menganut gaya
hidup copy-paste, nyontek abis seperti yang ada di televisi. Makanya kita
kudu ngeh dengan hiburan-hiburan yang disajikan media elektronik ini. Nggak
semua yang kita denger itu bener dan nggak semua yang kita lihat itu
bermanfaat. Catet tuh!

Remaja, sukanya hura-hura?
Kita berharap, tentu bukan anggukan kepala untuk menjawab pertanyaan di
atas. Namun, kita kudu berani akui kalo informasi dunia remaja yang hadir ke
permukaan via media massa justru banyak yang mengarah ke sana. Kita jadi
bertanya: “Kenapa sih nggak ada tayangan yang menggambarkan sosok remaja
yang kreatif di jalur yang benar, serius dalam belajar, gigih mencari ilmu,
dsb yang baik-baik?” Kenapa yang dihadirkan tuh yang kesannya hura-hura?
Padahal, nggak semua remaja gitu deh. Apakah ini ingin menggiring opini
bahwa remaja harus hura-hura, nyantai dan kesannya miskin idealisme?
Penelitian di Jakarta, Medan, Yogyakarta, Surabaya, dan Ujungpandang oleh
Gatra yang bekerja sama dengan Laboratorium Ilmu Politik, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, turut menjawab pertanyaan di
atas. Hasil survei memperlihatkan, remaja Indonesia cenderung bersikap
apolitis dan apatis terhadap keadaan. Mereka lebih banyak memanfaatkan waktu
untuk berhura-hura ketimbang melakukan kegiatan positif. Lebih dari itu,
mereka bersikap permisif terhadap perilaku kebebasan seks.

Data lain menunjukkan, bahwa banyak teman remaja yang nggak terlalu tertarik
untuk memanfaatkan waktu dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif, seperti
belajar atau membaca buku. Hampir 31% (246 orang) memilih mejeng di mal atau
pertokoan, berhura-hura, menenggak minuman keras, mengkonsumsi obat
terlarang, dan mementingkan kepuasan indrawi (hedonisme). (Gatra, 3/01/98).
Waduh, pegimane urusannya?

Emang nggak bisa dipukul rata hasil penelitian di atas untuk ngegambarin
potret remaja secara umum. Cuma masalahnya acara televisi yang disajikan
bagi remaja sekarang ini malah makin menguatkan hasil survei di atas. Dalam
sinetron remaja, ceritanya seputar cinta, cemburu, kasmaran, seks bebas,
yang dikemas dalam gaya hidup glamour.

Status sih boleh siswa berseragam sekolah, tapi perilakunya mencoreng nama
baik kaum terpelajar. Yang ditonjolin cuma dandanan modis dengan segala
aksesoris, hobi nge-dugem, atau mejeng di mal. Sementara kegiatan
belajar-mengajar, diskusi pelajaran sekolah, kreativitas dalam mempraktekkan
ilmu, semangat dalam belajar, rela berkorban dan saling menolong, atau
potret remaja idealis? Aha, kayaknya nggak ada dalam kamus tayangan-tayangan
remaja populer saat ini. Kasian deh ih!

Menjadi generasi cerdas islami
Sobat, indah banget ya kalo idealisme para pengelola tv itu nggak abis
digerogotin ‘ideologi rating’. Tentu program televisi yang menghibur dan
penuh manfaat dengan mudah kita nikmati. Kerinduan kita akan hadirnya cerita
remaja berkualitas semodel ACI atau Rumah Masa Depan di jaman baheula akan
segera terobati. Perbaikan potret buram para pelajar dengan menghadirkan
sosok-sosok siswa berprestasi yang pantang menyerah melawan keterbatasan
sarana dan prasarana pendidikan bisa jadi teladan. Atau sebuah kompetisi
intelektual yang dikemas dengan gaya populer untuk menghasilkan pelajar
berprestasi tentu menjadi nilai positif dari media untuk kita.

Selain itu, pembinaan untuk membentuk karakter dan pengenalan jati diri
remaja juga nggak boleh ketinggalan. Pihak media punya peranan besar dalam
hal ini jika mau sedikit peduli dengan memberikan informasi yang seimbang
terhadap rusaknya budaya populer yang lahir dari gaya hidup sekuler
masyarakat Barat. Agar pemirsa juga cerdas dan sekaligus islami. Baik pola
pikir, maupun pola sikap.

Kalo kita cuma ngisi hidup kita dengan hura-hura dijamin bakal sengsara
dunia-akhirat. Sebab hidup kita kan nggak jalan di tempat. Nggak selamanya
kita jadi remaja. Jika saatnya tiba dan Allah mengizinkan, kita bakal jadi
orangtua, berkeluarga, dan punya tanggungjawab yang harus kita pikul.
Kebayang dong kalo kondisi itu lalai kita siapkan dari sekarang selagi punya
kesempatan dan kekuatan di usia muda, masa depan kita bisa
amburadul...dul...dul!

Dan yang paling penting, kontrak hidup kita nggak selamanya diperpanjang.
Malaikat Izrail atas perintah Allah bisa ngecengin kita kapan aja dan di
mana saja. Karena itu, marilah kita menjadi generasi cerdas dan islami
seperti yang disabdakan Rasulullah saw: “Orang yang cerdas adalah orang yang
mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan
setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan
hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah.

Predikat generasi cerdas dan islami ini bisa kita raih kalo kita nggak
keberatan untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam, memahaminya, dan
menjadikannya sebagai aturan hidup kita. Daripada banyak hura-hura mendingan
banyakin nyari pahala. Jadi, ngaji yuk?!

3 komentar:

Rossy R Jumat, November 13, 2009  

Diceritakan ketika kita sdh meninggal dan bertemu dengan Malaikat akan ditanya 3hal ;
1. Untuk Apa Hartamu
2. Untuk apa umurmu
3. Kau gunakan untuk apa masa muda mu
4. Untuk apa umurmu

Nah mumpung masih muda ayoo belajar terus dan beribadah.....

harto Minggu, Desember 06, 2009  

Perbanyaklah ibadah selagi masih muda... Akhirat lebih baik dari dunia.... salaaam

Anonim,  Sabtu, Desember 26, 2009  

ibadah itu yang utama! salam....

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © vehement VEHEMENT by Aan Choesni Herlingga 2009

Back to TOP