Apa yang kita alami hari ini adalah efek dari pikiran kita kemarin dan apa yang kita pikirkan hari ini akan menimbulkan efek pada hari esok sedangkan apa yang kita pikirkan saat ini adalah proses untuk mencoba menciptakan kehidupan dimasa yang akan datang

© BY : <-ANCHUZ->

Mar'atush Shalihah (Perempuan Shalehah)

Pertama, salimul aqidah. Maksudnya adalah bahwa perempuan itu haruslah memiliki aqidah yang lurus yang akan menyelamatkannya dari api neraka. Ia haruslah memiliki konsepsi yang komprehensif dan integral terhadap Islam. Meyakini dengan sepenuh hati kebenaran dan kekuatan pengejawantahan hukum-hukumnya dalam segala lini kehidupan. Ia juga harus terbebas dari kesyirikan dan kejahiliyahan dalam segala bentuknya. Yang jelas, isteri yang shalihah bukanlah yang merangkap pekerjaan sebagai dukun, kecuali dukun bayi tentunya.

Kedua, shahihul ibadah. Ini terkait dengan pengejawantahan konsepsi aqidah Islamiyah yang lurus dan terkait erat dengan konsep ubudiyah dalam beriman. Tentunya apa-apa yang dikerjakan dalam ibadah itu merupakan ibadah yang benar dan tidak mengada-ada. Sedangkan yang terkait dengan perbedaan khilafiah dalam tatacara ibadah, maka harus ada toleransi (tasamuh) antara pasangan suami isteri. Karena bisa jadi suami berasal dari ormas Muhammadiyah, sedangkan isteri berasal dari ormas Nahdhatul Ulama. Biasanya perbedaan-perbedaan ini terkait beberapa cara beribadah yang bersifat cabang, misalnya doa ifthitah dan qunut.

Ketiga, akhlaqul karimah. Yakni buah dari kekuatan aqidah yang selamat dan kebenaran ibadah yang dilakukan berupa tingkah laku secara zhahir dan bathin. Akhlak yang mulia adalah bentuk pengejawantahan iman kepada Allah. Ia akan senantiasa sejalan dengan fithrah kemanusiaan secara universal, kapan pun dan dimana pun. Ia adalah bentuk ideal hubungan manusia terhadap dirinya, terhadap orang lain, dan terhadap Allah. Bahkan, sebagaimana dikutip Imam Malik, ia adalah misi utama dakwah Rasulullah, “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Keempat, ath tha’ah. Ketaatan yang dimaksudkan disini terakit erat dengan hubungan antara suami dan isteri, yakni ketaatan isteri terhadap suami, bakti isteri terhadap suami, dan pelayanan isteri terhadap suami. Ketika sudah menikah, hubungan bakti perempuan kepada oangtuanya berpindah kepada suaminya. Sedangakn jika laki-laki menikah, hubungan baktinya tetap kepada orang tuanya.

Kelima, al ‘izzah wal ‘iffah. Maksudnya adalah bahwa seorang perempuan arus menjaga kehormatan dirinya di hadapan makhluk dan kesucian dirinya di hadapan Khaliq. Menjaga diri disini dimaksudkan bahwa seorang isteri menjaga diri dari perasaan cemburu seorang suami dikarenakan oleh tindakan atau interaksi sang isteri dengan lelaki lain. Ia harus mencegah munculnya fitnah dari interaksi yang dilakukannya dengan sebaik-baiknya. Pada prinsipnya, kehormatan seorang isteri adalah kehormatan sang suami juga.

Tatkala para pemberontak mendatangi Khalifah Utsman bin Affan, bangkitlah isterinya dengan membiarkan rambutnya terurai, seakan-akan dia bersiasat dengan berusaha menggoda sifat kejantanan para pemberontak tersebut. Spontan Utsman berteriak dan membentaknya, seraya mengatakan, “Ambillah kerudungmu! Demi umurmu, kedatangan mereka lebih ringan bagiku daripada kehormatan rambutmu.”

Sedangkan yang terkait penjagaan diri dari tindakan maksiat kepada Allah, ini lebih bersifat umum dan tidak hanya menyangkut mar’atush shalihah saja.

Sedangkan untuk tingkatan yang lebih, ditambah poin keenam, yakni da’wah. Maksudnya menjadi bagian dari aktivitas kolektif dan berperan secara aktif dalam dunia pergerakan da’wah untuk menegakkan cita-cita kemanusiaan.

Begitulah kriteria mar’atush shalihah yang saya tetapkan. Setelah saya kirim ke salah seorang saudara yang bertanya tadi, beliau membalas, “Kriteria akhwat (isteri) shalihah kita tidak jauh beda, akh.”

Sebelum berpisah, mari sejenak menyimak syair Bang Haji..



setiap keindahan perhiasan dunia
hanya isteri salehah perhiasan terindah
setiap keindahan yang tampak oleh mata
itulah perhiasan, perhiasan dunia
namun yang paling indah di antara semua
hanya isteri salehah,
isteri yang salehah
setiap keindahan perhiasan dunia
hanya isteri salehah perhiasan terindah
hanya isteri yang beriman
bisa dijadikan teman
dalam tiap kesusahan
selalu jadi hiburan
hanya isteri yang salehah
yang punya cinta sejati
yang akan tetap setia
dari hidup sampai mati
bahkan sampai hidup lagi

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © vehement VEHEMENT by Aan Choesni Herlingga 2009

Back to TOP